PILKADA SERENTAK 2020

Oleh : Muhammad Fadilah

Sebelum tahun 2005, kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, kepala daerah dipilih secara langsung oleh rakyat melalui Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah atau disingkat Pilkada. Pilkada pertama kali diselenggarakan pada bulan Juni 2005, dilaksanakan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, pilkada dimasukkan dalam rezim pemilu, sehingga secara resmi bernama Pemilihan umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah atau disingkat Pemilukada. Pemilihan kepala daerah pertama yang diselenggarakan berdasarkan undang-undang ini adalah Pilkada DKI Jakarta 2007.

Pada tahun 2011, terbit undang-undang baru mengenai penyelenggara pemilihan umum yaitu Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011. Di dalam undang-undang ini, istilah yang digunakan adalah Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota.
Pilkada diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota dengan diawasi oleh Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi dan Bawaslu Kabupaten/Kota.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, peserta pilkada adalah pasangan calon yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Ketentuan ini diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 yang menyatakan bahwa peserta pilkada juga dapat berasal dari pasangan calon perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang. Undang-undang ini menindaklanjuti keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membatalkan beberapa pasal menyangkut peserta Pilkada dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004.

Pertanyaannya adalah, apakah PILKADA serentak 2020 hanya memberikan harapan atau kenyataan untuk warga negara.?

Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Di samping itu politik juga dapat ditilik dari sudut pandang berbeda, yaitu antara lain: politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama (teori klasik Aristoteles).

Dahulu pada zaman Yunani kuno, politik itu merupakan cara “bermain” yang dilakukan penguasa bersama antek anteknya untuk mengelabui rakyatnya. Tiada hari tanpa orasi “kelabu” yang dicekokkan kepada masyarakatnya agar meyakini narasi yang disampaikan rezim, sehingga rakyat menerima dengan lapang dada “pembenaran” sepihak tersebut.

Politik adalah cara seseorang mengendalikan pikiran, bagaimana menanggapi hal yang terjadi dalam kehidupan mereka. Politik belum tentu menjamin kehidupan itu akan tentram, justru banyak dari kalangan ahli politik itu berakhir dengan keterpurukan.

Berbicara dinamika politik itu berbicara tentang pergerakan, pergulatan, persaingan yang terjadi pada beberapa kelompok maupun antar individual. Ini merupakan saat mebangun pola pikir dan melancarkan serangan, mulai dari pelancaran isu-isu positive maupun isu-isu negativnya hingga pada puncak klimaks pergulatan.

Dibarengi dengan realitas poltik saat Ini di hampir semua negara, selalu ada intrik baru yang lahir, juga dengan pengantar kata-kata yang berseberangan dengan realitas. Dengan kata lain, cara cara rezim itu selalu berulang, tidak pernah benar benar meninggalkan sejarah masa lalu yang kelam
Politik tidak hanya milik pusat kekuasaan, tetapi sudah menjalar pada bagian yang lebih majemuk. Ini dapat kita lihat bahwa cara berfikir yang sama untuk memperoleh kekuasaan itu hanya dengan politisasi. Bukan lagi persaingan berdasar pada kemampuan. Walaupun tidak semua bermakna negatif, tentu saja, memungkinkan menjadi seni mendeskripsikan betapa alunan nada merupakan harmonisasi berbagai kepentingan dikelola secara apik dan melahirkan irama yang “menina-bobokkan” tanpa pernah menyadari bahwa hakekatnya mereka telah dibuai janji janji manis.

Sudah kita ketahu bersama, dalam berpolitik itu bebas melakukan apapun. Tanpa kita sadari segala cara bisa dilakukan dalam berpolitik bebas, tidak memandang apakah itu kawan baik kita yang harus kita jatuhkan, apakah itu orang terdekat kita. Jika harus mengorbankan itu semua, mereka siap untuk melakukan apapun demi tercapainya target ataupun keinginan mereka. Halal dan haramnya tidak diperhatikan selama niat mereka tetap ada dan target mereka terpenuhi.

Orang yang biasa melakukan politik dengan kebebasan adalah para penguasa, dengan kekuasaan mereka bisa melakukan apapun. Bahkan amanah dan tanggung jawab yang dibebankan kepadanya sering kali disalahgunakan oleh mereka. Mereka sering kali berpolitik hanya untuk mencari keuntungan sendiri dan kelompok tertentu. Tidak sedikit yang mengacuhkan rakyat kecil, tidak peduli dengan kesengsaraan dan penindasan yang terjadi. Karena mereka berpolitik hanya untuk mempertahankan diri sendiri.

Tidak sedikit yang kita lihat akhirnya dari hasil politik yang kita lakukan, ada yang terpecah belah karena beda pilihan dan pandangan, ada yang saling menjatuhkan, ada yang mengklaim diri ini yang benar dan itu yang salah. Semuanya terjadi karena politik adalah mempengaruhi kehidupan manusia yang dari awal memang bertujuan untuk merubah apapun dari kehidupan.

Momentum seperti ini adalah momen yang sangat ditunggu oleh para elit politik, janji-janji akan dislogankan dalam kampanyenya. Rakyat biasa yang tidak tau apapun akan tetap tertindas dan ditipu. Kebohongan akan menjadi program janji, giliran ada pribumi yang menangis di pelosok negeri, ditindas oleh tirani, mereka sibuk mencari dan memperbanyak koalisi bukan solusi.

Jangan heran ketika rakyat tak lagi betah dengan segala kebijakan pemerintah, itu karena keadilan, kebebasan, kesejahteraan diikat oleh kuasa tirani. Mereka tak lagi percaya dengan pemerintah. Pemerintah yang melintah, rakyat terus dikebiri, pribumi diinjak-injak, harga diri tak diperduli, ibu Pertiwi menangis bagai teriris.

Pilkada adalah momen harapan, harapan yang terus digantung tanpa ada kenyataan. Pilkada menjadikan rakyat percaya bahwa keadilan mungkin akan dikabulkan lewat jalan ini. Namun setelah rakyat memilih, setelah mereka terpilih, ujung-ujungnya mengasihi karena memilih-milih.

Satu golongan yang akan tetap jaya, satu kelompok yang akan tetap makmur, satu elit yang akan tetap beskuasa. Hingga jalan lain adalah penderitaan untuk rakyat.

Kenyataannya setelah pilkada adalah mengikhlaskan segala sesuatu yang terjadi, entah keadilan yang ditegakkan, atau kejoliman yang tetap berkuasa. Karena demokrasi yang kita percayai tidak akan mampu memberikan apa-apa yang menjadi hak dan kebutuhan untuk rakyatnya.

Slogan demokrasi “dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat”, itu adalah slogan sampah dari penguasa. Dari rakyat untuk penguasa.

PILKADA BIMA

Tiga kandidat yang bertarung di ajang pilkada Bima kali ini, masing-masing memberikan nuansa tersendiri.

Siapa yang benar-benar serius dalam membangun bima ini. Diantara 3 kandidat yang hadir, 2 diantaranya adalah petahana yang pernah menyempatkan diri dalam mengambil alih posisi terbaik di Bima. Sedangkan satu pasangan lain, merupakan warna baru yg hadir sebagai penantang yg ingin masuk mengambil alih kekuasaan.

Paslon no 3 hadir dengan misi ingin melanjutkan perjalanan kekuasaan yg dipegang selama 5 tahun ini, dengan slogan dua periode ingin menghadirkan kembali kepercayaan masyarakat dalam pilkada kali ini. Entah keberhasilan atau memang terpuruk, periode pertama bisa di nilai berapa kontribusi untuk Bima ini.

Bisa kita nilai, apakah BUMD miskin produktivitas, berapa benih bantuan untuk petani, mulai dari benih jagung sampai pada benih bawang busuk atau siluman, berapa harga pupuk yang sampai ketangan petani, apakah dijual berdasarkan het atau merugikan petani, gonjal ganjil kasus kriminal, KKN meningkatkan. Banyak cacatan suram dibenak masyarakat.

Paslon no 2 merupakan sisa petahana, banyak cacatan tersendiri, apa kontribusi untuk Bima, berapa banyak perubahan, sejauh mana pembangunan bisa diterapkan.

Paslon no 1 merupakan wajah baru yang berani tampil dipertarungan kali ini, dengan pandangan kearah perubahan dalam visi misinya. Melawan dua petahana yg pernah berkuasa.

Alih-alih kepercayaan masyarakat Bima di uji, apakah pengalihan arus kekuasaan bisa terjadi atau memang masih pada wajah yg sama.

Pilkada serentak
Pandai memilih dan memilah
Siapa yang rekam jejaknya bagus????

Ayooo Komitmen

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai